MEMAHAMI TEORI AKUNTANSI DAN SIFAT DASAR AKUNTANSI BERBAGAI PANDANGAN

Juni 20, 2009

Oleh :

I Komang Elen Jniadi (06.33.121.060)

Kelas DU Fak. Ekonomi Unwar

Abstraksi : Artikel ini ini bertujuan untuk dapat memahami teori akuntansi secara umum yang dapat dipergunakan sebagai pertimbangan untuk mengambil keputusan oleh para pembaca atau masyarakat umum dimana fungsinya untuk memahami praktik akuntansi secara umum dan untuk mengarahkan pengembangan praktik dan presedur akuntansi yang baru. Lain hal nya dengan para akuntan yang memiliki pandangan berbeda-beda tentang proses akuntansi dalam menguraikan teori-teori, dimana pandangan tersebut dapat dikelompokkan kedalam sifat dasar dari akuntansi tersebut dilihat dari berbagai pandangan.

Kata Kunci : teori akuntansi secara umum, riset akuntansi dan metode ilmiah, sifat dasar akuntansi dilihat dari berbagai pandangan.

A. PENDAHULUAN

Akuntansi seringkali dipandang sebagai disiplin yang kering, dingin, dan sangat analistis, dengan hasil yang sekaligus bisa dianggap benar atau salah. Meskipun demikian, konstruk atau gagasan akuntansi memiliki konsekwensi penting atas realitas social. Dilihat dari pandangan diatas Kondisi ekonomi sangat berdampak baik terhadap factor-faktor politis maupun terhadap teori akuntansi; factor-faktor politis pada gilirannya juga mempengaruhi teori akuntansi. Input bagi fungsi pembuatan kebijakan berasal dari tiga sumber utama, yaitu kondisi ekonomi, factor politis, dan teori akuntansi. Kondisi ekonomi merupakan setting yang melatarbelakangi pembuatan kebijakan dan praktik akuntansi. Istilah factor-faktor politis mengacu kepada pengaruh atas pembuatan kebijakan yang berasal dari pihak-pihak yang terkena dampak dari kebijakan yang bersangkutan, yang termasuk didalamnya adalah auditor , penyaji laporan keuangan, investor, asosiasi perdagangan dan industri, dan masyarakat umum. Teori akuntansi dikembangkan dan disempurnakan melalui proses riset akuntansi.

B. PEMBAHASAN

I. Teori Akuntansi

Definisi

a. Teori adalah sekumpulan gagasan (konsep), definisi, dan dalil yang menyajikan suatu pandangan sistematis tentang fenomena, dengan menjelaskan hubungan berbagai variable yang saling berkaitan untuk menjelaskan berbagai fenomena tersebut.

b. Akuntansi adalah:

i. Seni pencatatan, penggolongan dan peringkasan transaksi dan kejadian yang bersifat keuangan, diukur dengan satuan uang, serta dilakukan intrepertasi atasnya”. (AICPA).

ii. Suatu aktivitas jasa yang menyediakan informasi kuantitatif dan bersifat keuangan yang bermanfaat untuk membuat keputusan-keputusan ekonomik.

c. Teori Akuntansi (Accounting Theory) adalah asumsi-asumsi dasar (basicassumptions), definisi-definisi (definitions), prinsip (principles), dan konsep-konsep (concepts) ang mendasari penyusunan peraturan atau ketentuan akuntansi (accounting rules) dan pelaporan keuangan (financial reporting) serta bagaimana asumsi-asumsi dasar, definisi-definisi, prinsip, dan konsep-konsep tersebut diperoleh.

d. Definisi ini hanya terkait dengan akuntansi keuangan (financial accounting) dan tidak berlaku untuk akuntansi manajemen dan akuntansi pemerintahan.

e. Secara luas pengertian teori akuntansi tersebut meliputi:

i. Pemilihan metode penilaian (valuation methods)

ii. Pengembangan Rerangka konseptual (conceptual framework) akuntansi sebagai landasan penyusunan aturan akuntansi.

iii. Penilaian kesesuaian rerangka konseptual akuntansi dan prinsip-prinsip lainnya yang menjadi pedoman dalam penyusunan aturan akuntansi.

iv. Penelaahan alasan perusahaan memilih metode akuntansi tertentu diantara alternative-alternativenya.

f. Teori akuntansi juga mencakup hipotesis dan teori yang didasarkan kepada metode penelitian dan analisis yang lebih formal seperti yang digunakan dalam disiplin lain. Metode formal yang dimaksud adalah metode riset yang diderivasi dari filsafat, matematika, dan statistika.

Dari beberapa penjelasan diatas, dapat dilihat bahwa “teori akuntansi” tidak lepas dari praktik akuntansi karena tujuan utamanya adalah menjelaskan praktik akuntansi berjalan dan memberikan dasar bagi pengembangan praktik tersebut. Hubungan antara akuntansi dan praktik dapat dilihat pada gambar di bawah :

Kebijakan Akuntansi

Teori Akuntansi

Pertimbangan Nilai

Abstraksi Rekomendasi

Pemakai

Praktik Akuntansi

Laporan

Sumber Informasi Lain

Dari tampilan tersebut dapat dilihat bahwa peranan teori dalam akuntansi sangat berbeda dengan peranan teori yang digunakan dalam ilmu pasti, dimana dalam ilmu pasti, teori dikembangkan dari hasil observasi empiris.

Penyusunan dan Pembuktian Teori

a. Penyusunan teori:

1. Proses Evolusi yang berlangsung terus-menerus

2. Untuk menanggapi perubahan kondisi ekonomi dan social, teknologi baru, dan pemakaian laporan keuangan.

3. Untuk membenarkan atau mengganti praktik akuntansi logis dan empiris

b. Pembuktian teori:

1. Teori akuntansi tunduk pada pengujian yang bersifat logis dan empiris

2. Mampu menjelaskan dan memprediksi fenomena akuntansi

Sifat dasar Teori Akuntansi

Menurut ES Hendrikson Teori akuntansi memiliki 2 sifat dasar yaitu Prinsip-prinsip yang menyajikan suatu kerangka acuan umum untuk menilai praktik akuntansi dan Prinsip-prinsip untuk mengarahkan pengembangan praktik dan prosedur akuntansi yang baru, sedangkan menurut MC Donald, teori harus memiliki 3 elemen yaitu :

a. Dapat disajikan secara symbol

b. Dapat digabungkan sesuai aturan

c. Dapat menerjemahkan fenomena yang ada

Metodologi Penyusunan Teori Akuntansi

a. Normatif : “Apa yang seharusnya”, untuk menilai sejumlah praktik akuntansi yang seharusnya dilakukan. Misalnya kas di debet, jika utang di kredit.

b. Deskriptif : “Apa yang terjadi”, untuk menilai sejumlah praktik akuntansi yang seharusnya dapat digunakan.(dilakukan dengan mencari).

Pendekatan dalam Penyusunan Teori Akuntansi

a. Non-Teoritis: (1) bersumber dari praktik akuntansi (2) bersifat otoriter untuk mencari solusi praktek akuntansi bagi pengambilan keputusan (3) kurang landasan teoritis

b. Teoritis : pendekatan dengan teoritis dapat dibagi menjadi 6 yaitu :

1. Deduktif : asumsi-asumsi dasar yang umum kemudian ditarik kesimpulan khusus

2. Induktif : pengamatan secara khusus kemudian ditarik suatu kesimpulan umum

3. Etis : konsep penyajian yang wajar (fairness), keadilan (justice) bagi semua pihak yang berkepentingan, dan pelaporan yang akurat tanpa kesalahan interpretasi , dan kebenaran (truth)

4. Sosiologis : memperhitungkan dampak yang terjadi akibat pemakaian teknik-teknik akuntansi

5. Ekonomis: kebijakan dan teknik akuntansi (1) menyajikan realitas ekonomi (2) mempertimbangkan konsekwensi ekonomi. (manfaat harus lebih besar daripada biaya)

6. Eklektik : penggabungan dari berbagai pendekatan.

II. Riset Akuntansi dan Metode Ilmiah

Telaah ilmiah merupakan penjelasan dalam memecahkan masalah yang dapat menyerupai teka-teki. Bagi para peneliti, teka-teki merupakan masalah yang dapat diselesaikan atau dapat dipecahkan meskipun dengan memberikan alasan. Dimana untuk keluar dari teke-teki tersebut peneliti biasanya memakai beberapa pemikiran diantaranya :

  1. Pemikiran Deduksi (Umum ke Khusus)

Dalam pemikiran deduksi ini metode yang digunakan adalah metode aksioma atau matematika. Atas dasar metode ini, perumusan teori diawali dari pemakaian asumsi dasar dan aturan-aturan yang akan digunakan untuk menarik kesimpulan yang logis dari masalah yang dianalisis. Kebenaran teori hanya diuji berdasarkan logika analitisnya(operasional matematika)

  1. Pemikiran Induksi (Khusus ke Umum)

Penalaran induksi dimulai dengan adanya observasi terhadap seprangkat penomena tertentu yang merupakan perwujudan dari sesuatu yang dapat memberikan gambaran umum dari suatu penomena.

III. Sifat Dasar akuntansi Dilihat dari Berbagai Pandangan

Komite Terminologi AICPA (The Committee on Terminology of the American Institute of Certified Public Accountants) mendefinisikan akuntansi sebagai berikut: Akutansi adalah seni pencatatan, penggolongan, dan peringkasan transaksi dan kejadian yang bersifat keuangan dengan cara yang berdaya guna dan dalam bentuk satuan uang, dan menginterprestasian hasil proses tersebut.

Pada perkembangan saat ini, akuntansi didefinisikan dengan mengacu pada konsep informasi: Akutansi adalah aktivitas jasa. Fungsinya adalah menyediakan informasi kuantitatif, terutama yang bersifat keuangan tentang entitas ekonomik yang diperkirakan bermanfaat dalam pembuatan keputusan-keputusan ekonomik, dalam membuat pilihan diantara alternatif tindakan yang ada.

Para akuntan memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang proses akuntansi dalam menguraikan perbedaan teori-teori. Pandangan-pandangan tersebut adalah akuntansi sebagai bahasa, akuntansi sebagai catatan peristiwa yang lalu, akuntansi sebagai realitas ekonomi saat ini, akuntansi sebagai sistem informasi, akuntansi sebagai komoditas, dan akhirnya, akuntansi sebagai sebuah ideology.

Akuntansi sebagai sebuah ideology

Akuntansi telah dipandang sebagai fenomena ideologi sarana untuk mendukung dan melegitimasi tatanan sosial, ekonomi dan politik saat ini. Karl Marx menegaskan bahwa akuntansi melakukan suatu bentuk dan hubungan-hubungan sosial yang membentuk usaha produktif. Akuntansi juga dipandang sebagai mitos symbol, dan kegiatan ritual yang mengizinkan penciptaan suatu tatanan simbolis yang didalamnya agen-agen sosial dapat saling berinteraksi. Kedua persepsi tersebut juga mewujudkan dalam pandangan umum merupakan bahwa akuntansi juga instrument rasionalisasi ekonomi dan alat sistem kapitalisme.

Persepsi bahwa akuntansi merupakan sebuah instrument rasionalisasi ekonomi ditunjukkan dengan sangat baik oleh Weber, yang mendefinisikan tindakan rasionalisasi ekonomi sebagai “perluasan penghitungan kuntitatif atau akuntansi yang secara teknis dapat dilakukan dan secara nyata dapat diaplikasikan.” Hal yang sama ditekankan pula oleh Heilbroner yang menyatakan bahwa:

Praktik yang kapitalis mengubah satuan uang ke dalam satuan alat penghitung cost-profit yang rasional, dimana karya besarnya adalah pembukuan berpasangan yang terutama merupakan produk evolusi rasionalisasi ekonomi, perhitungan cost-profit, sebagai reaksi terhadap rasionalisasi tersebut, dengan merealiasikan dan mendefinisikan dan secara numeric, praktik ini sangat mendukung logika perusahaan.

Akutansi Sebagai Sebuah Bahasa

Akutansi telah dipandang sebagai bahasa bisnis. Akuntansi merupakan suatu cara pengkomunikasian informasi tetnang bisnis. Apa yang membuat akuntansi menjadi sebuah bahasa ? untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita lihat kesejahteraan potensial antara akuntansi dan bahasa. Hawes mendefinisikan bahasa sebagai berikut:

Simbol-simbol manusia bukan merupakan tanda-tanda yang disusun secara acak, yang mengarahkan pada konseptualisasi rujukan yang bersifat tertutup dan rahasia. Sebaliknya, symbol-simbol manusia disusun secara yang sistematis dan berpola dengan aturan-aturan khusus yang mengarahkan penggunaannya. Susunan symbol ini disebut bahasa, dan aturan yang mempengaruhi pola dan penggunaan symbol tersebut dinyatakan sebagai tata bahasa.

Jadi, pengakuan akutansi sebagai bahasa yang didasarkan pada identifikasi adanya dua komponen tersebut, sebagai dua tingkatan akutansi. Penjelasannya sebagai berikut:

1. Simbol-simbol atau karakteristik leksikal suatu bahasa adalah unit-unit yang mengandung arti atau kata-kata yang dapat diidentifikasi dalam setiap bahasa.

2. Tata bahasa suatu bahasa mengacu pada susunan sintaksis yang terdapat dalam setiap bahasa. Dalam akuntansi, tata bahasa merujuk pada serangkaian prosedur umum yang digunakan dan diikuti dalam penyusunan seluruh data keuangan untuk keperluan bisnis. Jadi menetapkan hubungan antara tata bahasa dengan aturan akuntansi dalam pernyataan berikut ini:

Penyandang gelar CPA (pakar dalam bidang akuntansi) mengesahkan ketetapan penerapan aturan akuntansi sama seperti seorang pembicara suatu bahasa mengesahkan ketetapan tata bahasa suatu kalimat. Aturan akuntansi memformalisasikan struktur yang melekat pada suatu bahasa alamiah.

Akutansi Sebagai Catatan Peristiwa yang Lalu

Umumnya akutansi dipandang sebuah cara penyajian sejarah perusahaan dan transaksi yang dilakukannya dengan pihak lain. Konsep pertanggung jawaban pada dasarnya merupakan ciri hubungan principal (pemilik) dengan agen (manajer). Pengukuran konsep pertanggung jawaban telah dikembangkan dari waktu ke waktu. Bimberg membedakannya dalam empat periode:

1. Periode pure custodial

2. Periode traditional custodial

3. Periode aset-utilization

4. Periode open-ended

Dua periode pertama mengacu pada kepentingan agen untuk mengembalikan sumber-sumber daya secara lengkap kepada principal dengan menetapkan tugas-tugas minimal dalam melaksanakan fungsi pemeliharaan (custodial). Periode ke tiga mengacu pada kepentingan agen untuk menetapkan inisiatif pemakaian aset secara mendalam agar sesuai dengan rencana yang telah disepakati.

Terakhir, periode open-ended berbeda dengan periode aset-utilization dalam hal penetapan pemanfaatan aset yang lebih fleksibel dan memungkinkan agen untuk merencanakan aliran pemanfaatan aset. Bimberg menguraikan konsep terakhir tersebut dalam uraian sebagai berikut:

Konsep ini tidak menyangkut petunjuk awal, namun juga memastikan kapan batas waktu sejumlah petunjuk harus diubah. Sama halnya dengan pengendalian strategis, fungsi pertanggung jawaban mensyaratkan adanya asumsi tingkat pertanggungjawaban yang signifikan, yang harus dimiliki oleh manajer. Tekanan kerja mungkin disebabkan oleh adanya kesenjangan struktur dan adanya ketidakpastian dengan jumlah yang signifikan. Petunjuk-petunjuk ini yang mungkin menyebabkan sistem pelaporan pada pemilik perusahaan akan menemui hambatan dalam komunikasi. Di satu sisi adanya kebutuhan pelaporan secara terperinci, disisi lain adanya resiko pelaporan yang terlalu banyak dan kompleks.

Akutansi Sebagai Realitas Ekonomi Saat ini

Akutansi juga dipandang sebagai cara untuk menggambarkan realitas ekonomi saat ini. Argumen utama yang mendukung pandangan ini adalah bahwa baik neraca maupun laporan laba-rugi seharusnya didasarkan pada taksiran yang menggambarkan realitas ekonomi saat ini daripada kos histories.

Tujuan utama dari pandangan akuntansi ini adalah penetapan pendapatan sesungguhnya (true income), suatu konsep yang menunjukkan perubahan kesejahteraan perusahaan dari suatu periode ke periode selanjutnya.

Akuntansi Sebagai Suatu Sistem Informasi

Akutansi selalu dipandang sebagai suatu sistem informasi. Pandangan ini mengasumsikan akutansi sebagai suatu proses yang menghubungkan sumber informasi atau transmitter (biasanya akuntan), saluran komunikasi, dan sekumpulan penerima (pengguna eksternal). Dengan menggunakan istilah dalam proses komunikasi, akuntansi dapat didefinisikan sebagai “proses menyendikan sejumlah observasi ke dalam bahasa sistem akuntansi, memanimpulasi sinyal sistem pelaporan, dan mengawasandikan (decoding) serta mentransmisikan hasilnya.” Pandangan tentang akuntansi ini memberikan manfaat yang penting baik secara konseptual maupun secara empiris. Pertama, pandangan ini mengasumsikan bahwa sistem akuntansi merupakan satu-satunya sistem pengukuran formal dalam organisasi. Kedua, pandangan ini memunculkan kemungkinan disain sistem akuntansi yang optimal, yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan informasi yang bermanfaat (bagi pengguna). Perilaku pengirim (sender) merupakan hal yang penting baik dalam reaksi terhadap informasi yang disajikan maupun dalam pemanfaatan informasi yang dibuat. Kedua perilaku ini merupakan subjek penelitian empiris dalam bidang akuntansi keperilakuan.

C. KESIMPULAN

Dari apa yang telah dapat di jelaskan dalam artikel diatas dapat dilihat bahwa teori akuntansi tidak lepas dari praktik akuntansi karena tujuan utamanya adalah menjelaskan praktik akuntansi berjalan dan memberikan dasar bagi pengembangan praktik tersebut. Dilihat dari sifat dasarnya akuntansi memiliki 2 sifat dasar yaitu Prinsip-prinsip yang menyajikan suatu kerangka acuan umum untuk menilai praktik akuntansi dan Prinsip-prinsip untuk mengarahkan pengembangan praktik dan prosedur akuntansi yang baru. Bukan itu saja dimana sifat dasar akuntansi juga dapat dilihat dari berbagai pandangan, Pandangan-pandangan tersebut adalah akuntansi sebagai bahasa, akuntansi sebagai catatan peristiwa yang lalu, akuntansi sebagai realitas ekonomi saat ini, akuntansi sebagai sistem informasi, akuntansi sebagai komoditas, dan akhirnya, akuntansi sebagai sebuah ideology. Dengan pembahasan artikel ini diharapkan pemahaman terhadap teori akuntansi dan sifat dasar akuntansi dari berbagai pandangan dapat lebih mendalam dan informasi yang diperoleh dari artikel ini dapat menjadi suatu dasar atau pedoman dalam pembahasan mengenai topic atau judul yang sama untuk selanjutnya.

Daftar Pustaka

– Arfan ikhsan, dan Herkulanus Bambang Suprasto. 2008. Teori Akuntansi & Riset

Multiparadigma, Penerbit: Graha Ilmu,Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: